Strategi Pengembangan Desa Wisata Pulau Besing, Kabupaten Berau
Kata Kunci:
4A, Desa Wisata, Pulau Besing, Strategi Pengembangan, SWOTAbstrak
Desa Pulau Besing di Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, memiliki potensi wisata alam dan budaya yang signifikan, namun pengembangannya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan fasilitas, rendahnya partisipasi masyarakat, serta pemanfaatan amenitas yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan tantangan, serta merumuskan strategi pengembangan desa wisata Pulau Besing sebagai destinasi yang mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah mixed-method dengan menggabungkan data kuantitatif melalui kuesioner terhadap 34 anggota Pokdarwis dan data kualitatif melalui observasi serta wawancara mendalam. Analisis dilakukan menggunakan kerangka 4A (Attraction, Accessibility, Amenity, Ancillary) serta metode SWOT berdasarkan matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan internal desa cukup dominan dengan skor IFAS 3,21, didukung oleh atraksi wisata alam seperti satwa endemik (bekantan, kaluang) dan atraksi budaya lokal (atap nipah, caping). Peluang eksternal juga signifikan dengan skor EFAS 3,18, terutama dari sisi dukungan regulasi dan potensi pasar wisata. Strategi yang dihasilkan meliputi pengembangan paket wisata edukatif berbasis budaya lokal, peningkatan amenitas, pemberdayaan kelembagaan masyarakat, serta penguatan promosi digital dan jejaring kerja sama. Kesimpulannya, pengembangan desa wisata Pulau Besing perlu difokuskan pada pemanfaatan potensi lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, serta dukungan kelembagaan dan infrastruktur untuk menciptakan destinasi wisata yang berdaya saing dan berkelanjutan.





